Menengok Kembali GNOME

Image via Wikimedia Commons
Image via Wikimedia Commons

GNOME 3.14 Menawarkan Environment yang membantu memaksimalkan produktifitas user dengan User Interface dan set aplikasi yang menarik.

Prakata

Penulis merupakan KDE user yang boleh dibilang secara eksklusif menggunakan KDE sejak versi 3. Tentunya, penulis terbuka dengan berbagai Desktop Environment (DE) diluar KDE. Penulis sering bermain dengan hampir seluruh DE yang ada di Linux, mulai dari Enlightenment hingga GNOME.

Di kesempatan ini penulis ingin menuliskan user experience yang didapatkan dari GNOME 3. Selama satu minggu ini penulis secara eksklusif menggunakan GNOME 3 dan mendapati bila GNOME telah jauh berevolusi. Penulis terakhir menggunakan GNOME adalah di Debian Lenny.

Tentunya there’s plenty of room for improvement dan dari apa yang penulis biasa baca melalui Planet GNOME, DE ini bukan hanya DE yang sangat konsisten berevolusi, namun juga DE yang sedang struggling untuk mendapatkan user nya kembali.

Menengok kembali GNOME

Mungkin kritik terbesar terhadap GNOME 3 adalah poor usability, dimana dengan dikenalkannya komponen seperti GNOME Shell, GNOME bermaksud memodernisasi metafor desktop nya, namun hal ini ternyata dinilai buruk pada sisi produktifitas, GNOME 3 pun banyak menuai kritik dari user.  Tercatat Linus Torvalds pernah mencap GNOME 3 sebagai “Unholly Mess”, Ubuntu mengembangkan Shell nya sendiri yang kemudian dikenal dengan nama Unity namun dengan tetap menggunakan banyak komponen dari GNOME 3.

Untuk mencoba mengukur sejauh mana GNOME telah berevolusi, penulis kembali mencoba GNOME 2 di Debian Squeeze, kemudian GNOME 3.4 di Wheezy dan akhirnya GNOME 3.14 di Jessie. Yang sangat terasa adalah perbedaan speed antara GNOME 2 dan GNOME 3.4, dimana GNOME 2 terasa sangat lembut dan GNOME 3.4 yang secara mandat menggunakan desktop compositor terasa sluggish. Disini penulis menggunakan laptop Lenovo U310 yang menggunakan prosesor Intel Core i3 generasi ke-3 atau Ivy Bridge yang dibekali dengan Intel HD4000 sebagai GPU nya.

Secara performa, bila dibandingkan dengan KDE 4.8 dengan mengaktifkan banyak desktop effects performa GNOME Shell 3.4 masih tertinggal, namun peningkatan performa penulis rasakan saat menggunakan GNOME 3.14. Peningkatan performa juga bisa ditingkatkan dengan menonaktifkan animasi melalui dconf-editor.

Dari sisi aplikasi, kerja keras dari para GNOME developer telah membuahkan hasil yang luar biasa. Aplikasi core terintegrasi secara erat menjadikan DE ini terasa efisien dan visually appealing. Nautilus sebagai salah satu contohnya, aplikasi ini memiliki interface yang sederhana hampir seperti Finder milik OSX namun juga tetap powerful. Mungkin yang penulis sesalkan adalah hilangnya Dual Panel View yang biasa diaktifkan dengan tombol F3 kemudian hilangnya kemampuan mendelete file/folder dengan tombol delete. Adapun aplikasi lainnya seperti Evince, Documents, Photos juga mendapatkan integrasi desktop yang sangat baik.

Adapun aplikasi lainnya masih cenderung belum terintegrasi dengan baik, seperti contohnya Rhythmbox. Namun saat ini tim GNOME tengah mempersiapkan aplikasi Music yang menjanjikan user interface yang senada dengan HIG (Human Interface Guidelines) milik GNOME. Hal lainnya yang dinilai minor namun penting adalah icon set default yang digunakan oleh GNOME yang seakan-akan menjadi ironi karena masih sama sejak era GNOME 2.

GNOME Menginspirasi

Banyak hal yang bisa di inspirasi dari GNOME, contohnya smooth scrolling secara system-wide yang akan memberikan kesan light (ringan). Fitur dari GTK+ ini kini juga diterapkan oleh Qt sehingga Plasma 5 juga akan memiliki fitur serupa. Penulis sebagai KDE user juga menginginkan interface aplikasi core di KDE lebih konsisten seperti yang telah dilakukan GNOME, namun tanpa mengorbankan kebebasan mengkonfigurasi yang menjadi salah satu kelebihan dari KDE.

Plasma 5 merupakan keberlanjutan dari KDE 4 yang menawarkan teknologi Qt terbaru dengan menawarkan lingkungan desktop yang tetap familiar. Saat ini KDE developer tengah sibuk memporting berbagai komponen dari yang berbasis Qt4 ke Qt5, sedikit demi sedikit komponen core di KDE kini sudah berbasiskan Qt5.

Mungkin satu hal yang harus menjadi perhatian para developer disini adalah bagaimana mempercepat implementasi roadmap yang ada, iOS dan OSX terasa memberikan penyegaran disetiap rilisnya. Di satu sisi rasanya kurang adil memberikan komparasi antara proyek open source dan proyek milyaran dollar seperti iOS dan OSX, namun di sisi lain Linux dan banyak proyek open source lainnya yang penulis nilai dikembangkan secara hybrid (memadukan proses top-down dan bottom-up) juga sukses dalam hal seperti security, konsep the more eyeballs tetap menjadi konsep yang lebih baik daripada konsep security through obscurity. Developer proyek Open Source seperti GNOME dan KDE pun terdiri dari developer yag dibayar perusahaan dan developer yang ber non-afiliasi atau independen. Kedua proyek diatas secara harfiah memiliki resources yang cukup, hal yang dibutuhkan kemudian adalah leadership yang baik.

Giri Alam
My name is Giri Alam Wigunnara. I live in the beautiful, yet hectic city of Bandung in Indonesia. I am currently a graduate student at Parahyangan Catholic University studying International Relations. Besides politics, my other interest is in open source technology. I have been a Linux user since 2007, and have contributed to several open source projects since then. I enjoy blues music and old movies. Recently I have travelled widely around the ten ASEAN nations, as I see great potential in them and together with some friends, I export and import spices, fruits and leather into the region.