Android Tanpa Google: Siapa Yang Miliki Android?

Expedition_42_Soyuz_TMA-14M_Landing_(201503120102HQ)
Photo via Wikimedia Commons

Android tanpa google tentunya akan memberikan user experience yang berbeda. Fleksibiltas dan kontrol terhadap device yang kita miliki akan dapat dioptimalkan, namun hal ini juga datang dengan sedikit atau banyak inconvenience sebagai trade-off nya tergantung si user sendiri.

Saya menggunakan handphone Nexus 5 yang secara default memberikan pengalaman Stock Google Android, dalam artian meskipun handphone ini diproduksi LG tapi tidak ditemukan satu aplikasi pun dari LG, berbeda dengan Samsung, Sony atau brand handphone lainnya yang secara umum menaruh aplikasi bundle-an mereka. Aplikasi-aplikasi pre-installed ini yang kemudian dikenal dengan istilah bloatware. Bloatware inilah yang selalu mendapat kritik dari user karena umumnya lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Membuka Kesempatan

Keuntungan dari menggunakan sistem operasi open source seperti Android adalah memungkinkan kita membangun sistem Android tanpa google. Custom ROM seperti CyanogenMod (CM) yang kini populer membuktikan hal ini, mereka membangun sebuah sistem operasi yang berbasis dari proyek open source Android atau yang lebih dikenal dengan AOSP (Android Open Source Project) dan menambahkan fitur-fitur baru dan yang tersembunyi di Stock Android. CM kini mengklaim memiliki 50 juta user dan tentunya akan selalu bertambah dari waktu ke waktu berkat popularitas Handphone OnePlus One yang menggunakan CyanogenOS dan publikasi yang baik terhadap CM dari banyak tech website.

Namun CM pun boleh dibilang gagal memberikan user experience yang setara dengan Stock Google Android. Bukan hanya miskin aplikasi tapi juga tidak ada opsi untuk menginstall aplikasi-aplikasi populer dikarenakan tidak ada nya layanan seperti Play Store. Bilapun kedepannya akan ada “Cyanogen Store”, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana tingkat adopsinya nanti karena seperti yang terjadi sekarang berbagai alternatif dari Play Store seperti Galaxy App milik Samsung dan Amazon App Store juga bukan lawan bagi Play Store.

Kealfaan aplikasi-aplikasi esensial dalam sebuah smartphone seperti Maps, cloud storage, VoIP, office suites diantara lainnya bukan menjadi tantangan bagi CM, melainkan dilihat sebagai kesempatan. Dalam ranah bisnis, popularitas CM akan membuka kesempatan baru bagi perusahaan-perusahaan yang produknya berkompetisi dengan Google untuk meningkatkan jumlah user base-nya. Sebut saja kombinasi produk dari Facebook Inc, seperti Facebook, Instagram dan WhatsApp yang terbukti lebih digandrungi dibanding kombinasi aplikasi sosmed dari Google yaitu Google+, Hangouts dan yang terbaru yaitu Google Photos. Bayangkan saja yang terjadi bila Facebook Inc berinvestasi di CM kemudian perusahaan lainnya seperti Microsoft berinvestasi juga dengan produk-produknya seperti Office 360 dan Cortana, bisa jadi akhirnya Google mendapatkan kompetitor yang setara di dunia Android.

Fragmentasi Bukanlah hal yang diinginkan

Disiplin yang tertanam setelah lebih dari 8 tahun menggunakan produk open source seperti Linux sedikitnya memberikan saya keyakinan bahwa teknologi itu sangat bergantung kepada inovasi. Lebih dari 8 tahun yang lalu hegemoni Microsoft masih belum mendapatkan ancaman yang berarti, tapi hari ini Apple dan Linux mampu membuat panik Microsoft. Dalam kurun waktu tadi Apple dan Linux sudah berinovasi dimana microsoft gagal, yaitu inovasi dalam memberikan user experience terbaik. 2 rilis produk dari Microsoft, yaitu Windows 7 dan Windows 8 terbukti tidak dapat menyaingi Windows XP. Hal ini hanya salah satu masalah yang dihadapi Microsoft karena tidak ada uang lagi yang dapat dipompa dari XP.

Profit yang didapatkan Microsoft untuk tahun ini memang meningkat, namun profit itu bukan didapatkan dari core bisnis nya yaitu menjual sistem operasi, yang berarti bila microsoft berganti haluan dengan berfokus kepada menjual SAAS dan PAAS maka tantangan yang dihadapi bagi perusahaan ini akan lebih besar karena jumlah kompetitornya pun jauh lebih banyak.

Bagi Apple dan Linux, 8 tahun terakhir ini menjadi waktu yang istimewa. Produk-produk dari Apple laku keras, umumnya karena user experience yang ditawarkan. Untuk Linux, ketertarikan dari OEM cukup membuktikan bahwa Linux kini sudah bisa lebih diterima publik dan bila hal itu belum bisa menjadi indikator maka setidaknya pola pengembangan khas Linux yaitu Open Source sudah menjadi norma baru di dunia teknologi.

Oleh karena itu Google pun harus segera berbenah diri, kompetitor seperti Facebook ditambah kombinasi produk sosmed yang dimilikinya cukup untuk mengancam relevansi Google di Android. Belum lagi perusahaan besar lainnya seperti Yahoo!, Microsoft, Adobe antara lainnya yang juga memiliki kepentingan di dunia Android, milyaran user base jelas bukan hal yang dapat mereka acuhkan. Pasal nanti chant “The King is Dead, Long Live the King!” akan terdengar saat ada raja baru di Android bukanlah hal yang terlalu penting bagi user, namun siapapun raja itu adalah ia yang bisa memberikan user experience, fleksibilitas, kontrol dan opsi terbaik bagi user.

Giri Alam
My name is Giri Alam Wigunnara. I live in the beautiful, yet hectic city of Bandung in Indonesia. I am currently a graduate student at Parahyangan Catholic University studying International Relations. Besides politics, my other interest is in open source technology. I have been a Linux user since 2007, and have contributed to several open source projects since then. I enjoy blues music and old movies. Recently I have travelled widely around the ten ASEAN nations, as I see great potential in them and together with some friends, I export and import spices, fruits and leather into the region.